PURUK CAHU – LENTERAKKALIMANTAN.NET

Memasuki awal bulan Dzulhijjah 1447 Hijriah yang jatuh pada 18 April 2026, Anggota DPRD Kabupaten Murung Raya, Imanudin, S.Pd.I., menyerukan umat Islam untuk menjadikan bulan haram ini sebagai momentum refleksi diri. Ia secara khusus mengajak masyarakat untuk membersihkan batin dari penyakit hati yang merusak ukhuwah, seperti dengki, dendam, dan iri hati.

Imanudin menekankan bahwa di tengah kemuliaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah, di mana amal ibadah dilipatgandakan, potensi penyakit batin justru seringkali mengaburkan nalar. Menurutnya, Dzulhijjah bukan sekadar ritual menyembelih hewan kurban, melainkan juga kesempatan untuk melakukan “penyembelihan” terhadap ego, ujub, dan segala rasa dengki yang mengendap di dalam jiwa.

“Untuk menghindari penyakit batin, ada beberapa ikhtiar yang harus dilakukan, yakni ikhlas, bersyukur, dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT,” ujar Imanudin, Sabtu, 18 April 2026.

Legislator asal Murung Raya ini merinci tiga pilar utama yang dapat menjadi perisai bagi umat Islam dalam menjaga hati:

◾Ikhlas: Mengajarkan jiwa untuk menerima takdir tanpa perlu sibuk menakar rezeki orang lain. Ikhlas berarti beramal tanpa mengharap pengakuan atau tepuk tangan manusia.
◾Bersyukur: Menumbuhkan rasa cukup di tengah ikhtiar yang belum membuahkan hasil. Syukur adalah menghitung nikmat yang sudah ada sebelum menuntut tambahan.
◾Taqarrub (Mendekatkan diri kepada Allah): Menjadi perisai saat bisikan buruk atau prasangka menyelinap. Ia menyarankan agar momentum Dzulhijjah diikat dengan memperbanyak takbir, tahlil, tahmid, puasa Arafah, serta sedekah yang dilakukan secara diam-diam.

Lebih lanjut, Imanudin berpesan kepada warga Murung Raya agar masjid, majelis taklim, hingga meja makan di rumah masing-masing dijadikan ruang pemulihan batin. Ia berharap, hati yang damai akan melahirkan lisan yang terjaga dari ghibah, serta pikiran jernih yang mendorong tangan untuk ringan membantu sesama.

“Jadikanlah hati ini sebagai rumah yang damai, pikiran yang jernih serta tenteram,” pesannya.

Imanudin menutup pesannya dengan mengingatkan bahwa saat jutaan manusia melantunkan talbiyah dengan kain ihram yang serupa, setiap individu diingatkan kembali bahwa derajat seseorang di sisi Tuhan hanya ditentukan oleh ketakwaannya, bukan oleh jabatan, harta, atau jumlah pengikut.

Ia mengajak masyarakat, khususnya dari Tana Malai Tolung Lingu, untuk menjadikan sepuluh hari pertama Dzulhijjah sebagai kurikulum ruhani. Fokusnya adalah mengikhlaskan hal yang belum tergapai, mensyukuri yang telah diberi, serta memaafkan mereka yang pernah menyakiti. Dengan jiwa yang bersih, diharapkan ibadah kurban tahun ini memberikan dampak spiritual yang lebih mendalam bagi kedamaian bangsa. (Lkg)

Bagikan: