
BANJARBARU – LENTERAKKALIMANTAN.NET
Panti Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Anak dan Remaja (PPRSAR) Mulia Satria memastikan seluruh program pembinaan dan pelayanan bagi anak-anak tetap berjalan optimal. Kendati kebijakan bekerja dari rumah (work from home/WFH) mulai diterapkan di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, operasional panti dipastikan tidak akan terganggu.
Kepala PPRSAR Mulia Satria, Sacik Kartikowati, menegaskan bahwa pihaknya tidak menerapkan WFH secara total. Skema kehadiran pegawai diatur secara bergilir untuk menjaga keseimbangan antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan mendesak di lapangan.
“Tidak murni semua bekerja dari rumah. Kami tetap menerapkan sistem perwakilan di setiap seksi untuk masuk kantor, dengan pola kerja bergilir,” ujar Sacik di Banjarbaru, Kamis (16/4/2026).
Dari total sekitar 90 pegawai, Sacik menjelaskan bahwa setiap harinya terdapat 27 hingga 30 orang atau sekitar 30 persen staf yang wajib hadir di kantor. Kehadiran fisik ini diprioritaskan untuk fungsi-fungsi teknis seperti tata usaha, pengelolaan utilitas (listrik dan air), serta administrasi krusial lainnya.
Untuk aspek pembinaan, Sacik menjamin kegiatan harian anak-anak tetap berlangsung normal dengan dukungan instruktur dan pendamping eksternal yang kompeten.
“Untuk pelayanan pembinaan, tetap harus standby. Kegiatan anak-anak berjalan seperti biasa, karena kami juga didukung oleh instruktur atau pendamping dari luar yang sudah berkompeten,” jelasnya lagi.
Bahkan, pada hari Sabtu, petugas piket internal tetap disiagakan untuk mendukung proses pendampingan. Sementara itu, unit layanan vital seperti dapur, petugas kebersihan, hingga keamanan (satpam) tetap bekerja penuh tanpa sistem libur guna menjaga stabilitas operasional panti.
Terkait teknis pengawasan bagi pegawai yang bertugas secara remote, PPRSAR Mulia Satria saat ini masih berkoordinasi dengan pemerintah pusat mengenai sistem absensi digital.
“Kami masih menunggu sistem absensi dari Kominfo, apakah nanti menggunakan titik koordinat atau sistem lainnya, agar dapat memastikan pegawai benar-benar bekerja dari rumah,” ungkap Sacik.
Hingga saat ini, transisi menuju sistem kerja hybrid tersebut diklaim tidak menemui kendala berarti. Sacik menekankan bahwa fokus utama lembaga tetap pada pemenuhan hak dan kualitas hidup anak-anak di panti.
“Sejauh ini tidak ada kendala. Yang terpenting, pelayanan kepada anak-anak tetap berjalan dan menjadi prioritas kami,” pungkasnya.(mckalsel/lenka)










