BANJARBARU – LENTERAKKALIMANTAN.NET
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) resmi menaikkan status kesiapsiagaan menghadapi ancaman Avian Influenza atau flu burung. Melalui penguatan Tim Gerak Cepat (TGC), Kalsel kini mengadopsi strategi terpadu untuk mencegah potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) yang dapat melumpuhkan stabilitas sosial dan ekonomi daerah.

Langkah strategis ini diwujudkan melalui Workshop Penguatan TGC dalam Joint Outbreak Investigation (JOI) yang digelar Dinas Kesehatan Kalsel di Banjarbaru, Selasa (14/4/2026). Forum ini mempertemukan ahli kesehatan manusia dan hewan untuk menyatukan barisan menghadapi risiko penyakit menular yang bersumber dari hewan (zoonosis).

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdaprov Kalsel, Galuh Tantri Narindra, menegaskan bahwa penanganan flu burung di era modern tidak bisa lagi dilakukan secara terisolasi oleh satu instansi saja.

“Pendekatan One Health menjadi sangat relevan. Kolaborasi antara sektor kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan lingkungan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan,” tegas Galuh Tantri.

Menurutnya, TGC memiliki peran krusial sebagai “pasukan khusus” di garda terdepan. Kecepatan dalam deteksi dini dan respons di lapangan menjadi kunci utama agar sebuah temuan kasus tidak berkembang menjadi wabah nasional.

Penguatan kapasitas TGC tahun ini difokuskan pada tiga aspek utama:
◾Surveilans Terintegrasi: Pertukaran data yang cepat antara dinas kesehatan dan dinas peternakan.
◾Koordinasi Lintas Sektor: Memangkas birokrasi saat terjadi temuan di lapangan.
◾Kapasitas Teknis: Peningkatan kemampuan investigasi wabah secara sistematis.

“Penguatan kapasitas TGC menjadi kunci dalam memastikan respons yang cepat, tepat, dan efektif di lapangan,” tambah Galuh. Ia menekankan bahwa Pemprov Kalsel berkomitmen penuh memperkuat ketahanan kesehatan sebagai bentuk perlindungan nyata terhadap masyarakat.

Agenda penguatan sistem kewaspadaan dini ini merupakan hasil sinergi besar. Pemprov Kalsel mendapat asistensi langsung dari Kementerian Kesehatan RI, Kementerian Pertanian RI, serta dukungan teknis dari organisasi kesehatan dunia, World Health Organization (WHO) Indonesia.

Sinergi lintas sektoral ini diharapkan mampu membangun persepsi yang sama antar pemangku kepentingan. Dengan koordinasi yang solid, Kalimantan Selatan diproyeksikan memiliki sistem deteksi dini yang lebih tangguh terhadap ancaman zoonosis di masa depan.(mckalsel/lnk)

 

Bagikan: