Banjarmasin LENTERAKKALIMANTAN.NET

Kinerja ekonomi dan fiskal Kalimantan Selatan hingga Mei 2026 masih menunjukkan tren positif. Pertumbuhan ekonomi yang tercapai pada Triwulan I 2026 dinilai tetap terjaga di tengah dinamika perekonomian nasional.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Kanwil DJPb) Provinsi Kalimantan Selatan, Catur Ariyanto Widodo, mengungkapkan pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan pada Triwulan I 2026 mencapai 5,67 persen secara tahunan (year on year).

Dari sisi fiskal, realisasi Belanja Negara hingga 31 Mei 2026 telah mencapai Rp11,92 triliun atau 39,79 persen dari total pagu anggaran. Penyaluran terbesar berasal dari Transfer ke Daerah (TKD) yang telah terealisasi sebesar Rp8,33 triliun.

“Perkembangan ini menunjukkan bahwa pelaksanaan APBN di Kalimantan Selatan terus berjalan dengan baik. Penyaluran belanja negara yang semakin efektif diharapkan mampu menjaga aktivitas ekonomi sekaligus memperkuat pembangunan di daerah,” ujar Catur, Selasa (30/6/2026).

Selain itu, konsolidasi APBD di Kalimantan Selatan hingga Mei 2026 mencatat surplus sebesar Rp984,86 miliar. Menurut Catur, capaian tersebut mencerminkan kondisi fiskal daerah yang masih sehat sehingga mampu menopang pelaksanaan berbagai program pembangunan dan pelayanan publik.

Di sektor perdagangan luar negeri, neraca perdagangan Kalimantan Selatan kembali mencatat surplus sebesar 922,44 juta dolar Amerika Serikat pada Mei 2026. Nilai tersebut meningkat 6,19 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya dan naik 14,45 persen dibanding bulan sebelumnya.

Catur menjelaskan, kinerja ekspor masih menjadi penopang utama perekonomian daerah. Nilai ekspor mencapai 1,108 miliar dolar Amerika Serikat atau tumbuh 7,7 persen secara tahunan, didorong meningkatnya volume ekspor batu bara yang menyumbang lebih dari 50 persen total ekspor Kalimantan Selatan.

Sementara itu, nilai impor tercatat sebesar 186,12 juta dolar Amerika Serikat atau meningkat 16,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya, terutama akibat kenaikan impor minyak petroleum.

Di sisi lain, inflasi tahunan Kalimantan Selatan pada Mei 2026 mencapai 4,22 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,08 persen. Secara bulanan, inflasi tercatat sebesar 0,20 persen.

Menurut Catur, inflasi tahunan dipengaruhi kenaikan harga emas perhiasan, beras, minyak goreng, ikan nila, dan sigaret kretek mesin. Adapun inflasi bulanan didorong oleh kenaikan harga beras, minyak goreng, bahan bakar rumah tangga, ikan patin, serta emas perhiasan.

Meski demikian, tekanan inflasi berhasil ditekan melalui penurunan harga sejumlah komoditas seperti daging ayam ras, telur ayam ras, ikan gabus, ikan nila, dan udang basah.

Untuk menjaga stabilitas harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kalimantan Selatan terus memperkuat berbagai langkah pengendalian. Hingga Mei 2026, telah dilaksanakan 355 operasi pasar dan gerakan pangan murah, serta penyaluran beras SPHP sebanyak 5,47 ribu ton.

Selain itu, sejumlah program strategis juga terus dijalankan, antara lain panen raya jagung serentak di Kabupaten Tanah Laut, program cetak sawah seluas 30 ribu hektare, pembangunan infrastruktur jalan di Kabupaten Kotabaru, serta pelaksanaan High Level Meeting TPID Kota Banjarbaru sebagai persiapan menghadapi Hari Besar Keagamaan Nasional dan menuju Kota Penghitung Inflasi pada 2028.

“Ke depan, sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan seluruh pemangku kepentingan akan terus diperkuat agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga, inflasi terkendali, dan kesejahteraan masyarakat Kalimantan Selatan semakin meningkat,” tutup Catur(mckalsel/lnk).

Bagikan: