
MARABAHAN – LENTERAKKALIMANTAN.NET
Pemerintah Kabupaten Barito Kuala (Batola) resmi meluncurkan program mudik gratis bertajuk “Hati Lega Lebaran Bahagia” untuk mengatasi kendala geografis dan biaya transportasi warga. Bupati Barito Kuala, H. Bahrul Ilmi, melepas langsung keberangkatan para pemudik di Dermaga Siring Ulek Marabahan pada Selasa, 17 Maret 2026.
Program ini mengandalkan jalur sungai sebagai urat nadi transportasi utama, mengingat sebagian wilayah Barito Kuala masih sulit dijangkau melalui jalur darat. Dengan mengerahkan empat unit armada speedboat, pemerintah daerah berupaya menjamin keamanan dan kenyamanan warga yang ingin merayakan Idul Fitri di kampung halaman tanpa terbebani biaya tambang yang melonjak menjelang lebaran.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Barito Kuala dalam laporannya merinci bahwa layanan ini akan beroperasi dalam dua fase: empat hari sebelum lebaran untuk arus mudik, dan empat hari pasca-lebaran untuk arus balik. Rute utama yang dilayani adalah jalur Marabahan–Kuripan dan sebaliknya.
Pelepasan peserta mudik ini juga dihadiri oleh Wakil Bupati Herman Susilo serta jajaran Kepala SKPD di lingkungan Pemkab Batola. Kehadiran seluruh pimpinan perangkat daerah ini menegaskan bahwa aksesibilitas transportasi sungai menjadi prioritas pelayanan publik dalam momentum hari besar keagamaan tahun ini.
Wakil Bupati Herman Susilo memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh pihak yang terlibat. Ia menekankan bahwa program ini bukan sekadar rutinitas, melainkan langkah nyata pemerintah untuk hadir di tengah kesulitan logistik masyarakat.
Bupati H. Bahrul Ilmi menegaskan bahwa negara harus hadir memfasilitasi perjalanan masyarakat agar lebih terjangkau dan minim risiko kecelakaan di air.
“Program mudik gratis ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah kepada masyarakat. Kami berharap melalui kegiatan ini masyarakat dapat melakukan perjalanan mudik dengan aman, nyaman, serta dapat berkumpul bersama keluarga di kampung halaman dengan penuh kebahagiaan,” ujar H. Bahrul Ilmi saat memberikan sambutan.
Langkah ini diharapkan dapat menekan angka penggunaan perahu tradisional yang sering kali melebihi kapasitas (overload) saat puncak arus mudik, sehingga standar keselamatan transportasi sungai di wilayah Barito Kuala tetap terjaga.(Kominfo/lnk)














