
PURUK CAHU – LENTERAKKALIMANTAN.NET
Bagi masyarakat Dayak di Kabupaten Murung Raya, legenda bukan sekadar fiksi atau pengantar tidur. Ketua DPRD Murung Raya, H. Rumiadi, S.E., S.H., M.H., menegaskan bahwa kisah-kisah inspiratif tersebut merupakan catatan sejarah autentik yang memuat kompas moral dan identitas kultural yang harus diselamatkan dari kepunahan.
Dalam pernyataannya di Puruk Cahu pada, Rabu (22/4/26) Rumiadi menyoroti betapa krusialnya posisi cerita rakyat sebagai warisan pengetahuan. Ia menekankan bahwa setiap narasi yang diwariskan pendahulu memiliki bukti nyata yang melekat pada lanskap geografis dan batin masyarakat setempat.
Rumiadi secara khusus mencontohkan legenda Buluh Perindu yang berlokasi di Gunung Bondang, Kecamatan Laung Tuhup. Menurutnya, kisah ini bukan sekadar mitos, melainkan realitas yang memiliki latar tempat dan nilai kehidupan yang konkret.
“Cerita tentang sejarah yang pernah diceritakan oleh para tokoh pendahulu itu terbukti ada, termasuk di wilayah Kabupaten Murung Raya. Cerita-cerita tersebut memiliki nilai yang melekat pada adat budaya tradisional kita warga Dayak Kalimantan Tengah, terutama di Bumi Tana Malai Tolung Lingu Tira Tangka Balang ini,” ujar H. Rumiadi.
Bagi politisi senior ini, cerita rakyat adalah instrumen pendidikan karakter. Di dalam narasi tradisional tersebut, tersimpan tiga pilar utama kearifan:
◾Ekologis: Ajaran tentang larangan merusak hutan dan menjaga harmoni dengan alam.
◾Etika Sosial: Pentingnya musyawarah dan kehormatan dalam menepati janji.
◾Spiritualitas: Hubungan mendalam antara manusia dengan Sang Pencipta dan leluhur.
Rumiadi mengibaratkan kisah-kisah ini sebagai “kompas nilai”. Saat zaman berubah dengan cepat, nilai-nilai dari kisah seperti Buluh Perindu—tentang kerinduan yang dijaga dalam adab—tetap relevan untuk menjaga kewarasan sosial.
Menyadari ancaman modernisasi, Rumiadi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak hanya mengandalkan tutur lisan. Ia mendorong adanya upaya sistematis untuk mencatat dan mendokumentasikan kisah-kisah tersebut ke dalam format tulisan, audio, maupun visual.
“Sebagai warga Dayak, kita harus bangga dan bertanggung jawab menjaga warisan ini. Jangan sampai anak cucu hanya mengenal budayanya dari luar,” tegas Rumiadi.
Ia berharap Rumah Betang, sekolah, hingga meja makan keluarga kembali menjadi ruang tutur yang aktif. Tujuannya jelas: agar bangsa besar ini tetap memiliki akar yang kuat. Dari pelosok Tana Malai Tolung Lingu, kisah leluhur diharapkan menjadi inspirasi konkret untuk bertindak—mencintai tanah air, menghormati sesama, dan taat kepada Tuhan.
(Lkg)










