PURUK CAHU – LENTERAKKALIMANTAN.NET
Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kabupaten Murung Raya, Sarwo Mintarjo, menegaskan bahwa keselamatan ekologis wilayahnya bergantung pada penghayatan nilai leluhur Tira Tangka Balang. Menurutnya, menjaga hutan dan melestarikan budaya adalah dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan untuk menjaga kedaulatan daerah.

“Hutan adalah paru-paru kehidupan dan budaya adalah jiwa daerah. Ketika keduanya dijaga seiring, Murung Raya akan berdiri tegak sebagai wilayah yang berdaulat secara ekologis dan bermartabat secara kultural,” ujar Sarwo dalam keterangannya, Kamis (16/4/2026).

Sarwo menekankan bahwa kelestarian alam erat kaitannya dengan ketahanan nilai moral masyarakat. Tira Tangka Balang bukan sekadar slogan, melainkan sistem nilai yang mengatur interaksi manusia dengan tanah dan air.

“Jika Tira Tangka Balang kita hidupkan dalam perilaku sehari-hari, maka hutan tidak akan dirusak, sungai tidak akan dicemar, dan adat tidak akan dilupakan,” tegasnya.

Ia berharap nilai luhur ini menjadi kompas dalam pengambilan keputusan, mulai dari tingkat kebijakan pemerintah hingga tindakan masyarakat di tingkat tapak.

Untuk mengimplementasikan visi tersebut, Pemerintah Kabupaten Murung Raya mendorong tiga langkah strategis lintas sektor:

Patroli Partisipatif: Memperkuat restorasi kawasan rawan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dengan melibatkan Damang, Mantir Adat, kelompok tani, dan pemuda desa.

Edukasi Berbasis Kearifan Lokal: Mengintegrasikan nilai budaya dalam muatan lokal pendidikan dan sanggar seni untuk menjangkau generasi muda.

Ekonomi Berkelanjutan: Mendorong ekowisata berbasis budaya yang memberi dampak ekonomi langsung bagi UMKM dan desa penyangga hutan.

Dari sisi birokrasi, Sarwo berkomitmen memastikan program daerah berjalan terukur. Indikator keberhasilan akan dipantau melalui luas tutupan hutan, penurunan titik api, serta pertumbuhan usaha lokal yang selaras dengan prinsip kelestarian.

“Anggaran daerah harus bekerja untuk rakyat dan alam. Setiap program wajib memiliki data dasar, target capaian, dan evaluasi terbuka,” kata Sarwo, seraya meminta publik aktif mengawasi agar kebijakan tidak sekadar berhenti di atas kertas.

Menutup pernyataannya, ia mengajak seluruh elemen—mulai dari DPRD, dunia usaha, hingga lembaga adat—untuk bergerak serentak. Jika kolaborasi ini berjalan solid, ia optimis martabat manusia di Bumi Tana Malai Tolung Lingu akan terangkat seiring dengan lestarinya alam.
“Ini bukan tugas orang lain. Ini tugas kita semua, hari ini juga,” pungkasnya. (Lkg)

 

Bagikan: